Kamis, 19 Maret 2009

LATAR BELAKANG INGIN PUNYA ANAK

LATAR BELAKANG INGIN PUNYA ANAK


PENDAHULUAN


Dalam era permulaan abad ke 21 sekarang ini, era globalisasi dengan kemajuan teknologi, komunikasi informasi , transfortasi dan hak azasi manusia;kejadian dan kemajuan di suatu tempat dapat dikomunikasikan keseluruh dunia melalui mass media, radio, televise, internet dan lain-lain.Keberhasilan pembangunan nasional selama 4 dasawarsa [40 tahun sejak PELITA I tahun 1969] dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan di bidang Kesehatan dan Keluarga Berencana telah dapat meningkatkan umur harapan hidup, penurunan tingkat kematian dan tingkat kelahiran serta penurunan pertumbuhan penduduk.Tetapi masalah INGIN PUNYA ANAK ATAU “WISHING CHILDREN, KINDER WENS”masih belum mendapat perhatian dalam program selama ini.

PENGERTIAN
Yang dimaksud dengan ingin punya anak dalam penulisan ini adalah pasangan suami istri [PSI] yang kepingin punya anak mencakup:
PSI dengan istri usia reproduksi 15-49 tahun yang telah menikah lebih dari satu tahun tanpa pakai pencegah kelahiran, belum mempunyai anak[ childless] dan kepingin mempunyai atau melahirkan anak.
PSI yang sudah menpunyai satu anak lelaki, menginginkan kelahiran seorang anak perempuan,
PSI yang sudah mempunyi satu atau lebih anak perempuan, tetapi masih menginginkan kelahiran anak laki-laki, atau sebaliknya.
PSI yang baru menikah belum ingin melahirkan seorang anak, bulan madu ‘honey moon ’diperpanjang menjadi ‘honey years’, setelah itu mereka menginginkan anak lelaki atau perempuan, atau anak lelaki maupun perempuan sama saja sesuai kesepakatannya.

"WISHING CHILDREN"
ADALAH ISTILAH INGIN PUNYA ANAK DALAM BAHASA INGGRIS; "KINDER WENS" ADALAH ISTILAH DALAM BAHASA BELANDA YANG BIASA DIPAKAI SEWAKTU PENULIS MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN TAHUN 1960-HAN.

Sejak awal abad 21 ini sampai saat ini Kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa WHO[World Health Organisation] makin menyadari pentingnya kesehatan reproduksi, seksual dan penanganan penyakit yang berhubungan dengannya merupakan bagian penting kehidupan, kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. Hubungan suami istri , kehamilan dan kelahiran anak adalah bagian inti kehidupan dimana saja , dengan memperhatikan hak azasi manusia [human right], keadilan [equity] dan keadilan social[social justice] .Ada alasan kuat bidang kesehatan dan keluarga berencana bahwa kesehatan reproduksi, seksual dan penyakitnya [reproductive ill health and sexual] mempunyai kontribusi besar terhadap beban kehidupan dan penderitaan didunia.
Maksud penulisan ini pada blogspot internet adalah memberikan informasi tentang reproduksi sehat, masalah dan penyakitnya. Diharapkan informasi ini dapat menolong mereka dengan bekerja sama dengan petugas kesehatan, keluarga berencana dan masyarakat terkait.
Penekanan penulisan ini pada penetrapan pengetahuan klinik berasal dari ilmu urai, fisiologi, patologi, parmakologi, kepustakan kesehatan lain dan pengalaman penulis sebagai seorang dokter sejak tahun 1965.Ada ungkapan :Pengalaman adalah guru terbaik, ’Experience is the best teacher’
Namun prinsip dasar dan metode penulisan ini diupayakan secara populer dari pada secara teknis profesi.Penulisan populer didasarkan pada pengenalan situasi, identifikasi masalah, pemecahan atau solusi masalah dan evaluasi pemecahan masalah [situation, problem, solution and evaluation],istilah medis diupayakan terjemahannya dalam bahasa Indonrsia.
Penulisan ini dapat menjadi masukan untuk pengembangan selanjutnya .oleh para ahli kesehatan dan KB serta sebagai bahan referensi bagi dokter yang baru tammat, perawat, bidan dan para medis lainya serta yang berkepentingan dengan kesehatan reproduksi dan penyakitnya.
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada mereka yang memberi saran dan kritik untuk penyempurnaan penulisan ini.Terima kasih kepada Dr Halim Wibisono , Mudiyono dan semua pihak yang telah memberikan masukan dan saran dalam penulisan ini.

PENGENALAN SITUASI
Apa yang akan kita bicarakan tentang situasi saat ini?
Penelitian WHO di negara Bangglades selama dua dasawarsa tentang kesehatan reproduksi pada PSI umur 15-49 tahun ditemukan preferensi anak laki-laki atau mengutamakan pilihan kelahiran anak laki-laki dari pada anak perempuan.Hal ini mengakibatkan penurunan tingkat kelahiran melambat atau tertahan [level off] sampai mereka merasa cukup punya anak lelaki., pada tingkat kelahiran per wanita umur 15-49 tahun sebesar 3, 3.
Penelitian WHO di Syanghai, China tahun 2000 dengan pemakaian alat kontrasepsi mencapai 80 % dari PSI , hampir separuh dari pasangan yang mempunyai anak satu, dengan pengalaman satu atau lebih kehamilan yang tidak diinginkan pada kelahiran anak pertama, hal ini disebabkan sebagian oleh kegagalan alat kontrasepsi dan sebagian
Lagi oleh preferensi kelahiran anak laki-laki atau perempuan.
Sekitar 14 % [antara 10-15 %] wanita usia reproduksi 15-49 tahun yang telah menikah lebih dari satu tahun tanpa pakai pencegah kelahiran belum punya anak[childless] kurang subur dan kepingin punya anak[.Di Amerika Serikat diperkirakan sebanyak 5 juta pasangan wanita kepingin punya anak, di Indonesia diperkirakan sebanyak 5,3juta. Dari 38 juta PSI..
Sebagian pasangan suami istri yang baru menikah belum menginginkan kelahiran anak, mereka memperpanjang bulan madu ‘honey moon’ menjadi ‘honey years’, setelah itu mereka meninginkan kelahiran anak laki atau perempuan sesuai kesepakatannya
Cukup banyak wanita usia reproduksi menderita penyakit infeksi saluran organ reproduksi , termasuk penyakit infeksi akibat hubungan seksual, yang dapat mengakibatkan kekurang suburan[subfertile], sakit panggul, daerah kelamin dan pinggang.

Pengaruh budaya misalnya budaya masyarakat patriakal yang mengutamakan pilihan anak lelaki dari pada anak perempuan, sebaliknya budaya matriakal mengutamakan pilihan anak perempuan.Umumnya di Indonesia adalah budaya patriakal, yang terkenal budaya matriakal adalah budaya Minangkabau.Pada budaya patriakal menginginkan anak pertama laki-laki sesudah itu anak perempuan, kalau belum ada anak laki-laki biar sudah ada anak perempuan lebih dari satu, masih menginginkan kelahiran anak lelaki;demikian sebaliknya pada budaya matriakal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar